Senin, 16 Agustus 2010

Me and My College Friends

Bismillahirrahmanirrahim....

Kali ini semua ku tahu hal yang kulalui berbeda dari sebelumnya. Tak bisa aku pungkiri semua kujalani lebih indah dari apa yang pernah kujalani sebelumnya. Sahabat, sebuah kata yang sangat sederhana... namun begitu dalam jika diartikan. Sahabatlah yang membuatku berbeda, mereka juga yang mengikuti perubahanku, mereka ada ketika aku membutuhkan canda, tawa dan keceriaan. Mereka hadir begitu dekat bagiku.. itu curahan hatiku.. tentang sahabatku. Mereka warnai hari-hariku, penatku, letihku, sedihku, sukaku, dan semua hal yang aku lalui. Rasa sakitku hilang ketika aku berada di samping mereka. Seakan merekalah obat dari penyakitku.
Aku dan semua hal yang kutahu tentang mereka, sahabatku. Di awal yang baik di hari yang baik, aku mengenal mereka yang kini tak pernah kulupakan dan selalu bergandengan mengisi hari ke hari. Aku mengenal mereka saat pertama masuk perguruan tinggi. Oki, sahabat yang pertama kali kukenal. Pertemuan kami terbilang unik, di tempat fotocopy. Pada saat itu kebetulan ada berkas yang harus difotocopy. Aku memulai perkenalan.
“mau daftar ulang?” tanyaku.
“iya. Kamu?”
“ya sama. Lewat jurusan apa?” tanyaku lagi.
“Ilmu Administrasi Negara.” Jawabnya.
“wah.. sama. Aku juga lewat di jurusan lmu Administrasi Negara.” Ujarku.
Komunikasi terus berlanjut sampai hari-hari berikutnya.
Kemudian tibalah waktu ospek. Oki yang sudah ku kenal hampir selalu bersamaku, namun karena kelompok ospek yang berbeda kami pun terpisah untuk sementara waktu. Aku kelompok 1, sementara Oki kelompok 16.
Nah, di kelompok 1 itulah aku berjumpa dengan Willy. Dia seorang pendiam. Lagi, aku yang mengawali percakapan.
“Jurusan apa?” tanyaku singkat.
“Ilmu Administrasi Negara.” Jawabnya.
“wah.. sama. Aku juga jurusan lmu Administrasi Negara.”

Komunikasi pun berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Sebelumnya, aku juga mengenalkan Willy pada Oki. Kami pun sering bersama. Bahkan di awal-awal masuk perkuliahan. Kami selalu bersama. Kemudian, muncullah Raisa hadir sebagai sahabat selanjutnya. Awalnya Raisa tidak begitu dekat dekat Willy, dia dekat dengan aku dan Oki. Oki dan Raisa sangat hobi berorganisasi. Berbanding terbalik dengan aku yang sebenarnya juga pendiam, pemalu, tertutup dan juga demam panggung (hehe... ini rahasia episode bangku sekolah). Bahkan untuk berbicara di depan publik saja aku gugup minta ampun. Namun, karena keinginan yang kuat perlahan-lahan aku mulai memberanikan diri tampil di depan kelas. Di depan mahasiswa-mahasiswi cerdas. Aku banyak belajar dari Oki. Dia punya keberanian yang kuat dan bermental baja. Selalu saja dia dan dia yang berbicara di ruang. Aku jadi iri dibuatnya.
Waktu terus berjalan, hari ke hari aku terus berpikir, kenapa Oki bisa sementara aku tidak? Lalu semangat dan optimisme yang tinggi pun muncul. Perlahan-lahan aku mencoba memberanikan diri memberikan beberapa argumen pada matakuliah yang kami pelajari. Lama-kelamaan aku bisa terbiasa untuk berbicara di depan publik. Hal tersebut sangat berdampak pada nilaiku yang bagus. Bahkan aku termasuk mahasiswa dengan IP paling tinggi dari semester 1 sampai saat aku menulisi catatan ini. Jujur, aku sangat berterimakasih pada seluruh teman-teman Jurusan Ilmu Administrasi Negara kelas Pagi, terutama terimakasihku pada Oki. Karena begitu banyak motivasi yang aku dapatkan darinya.
Kembali pada perihal organisasi. Aku yang sama sekali minim pengalaman, tiba-tiba “gila” untuk ikut berorganisasi. Itu karena Raisa, Oki dan aku sering mengikuti berbagai Training yang diadakan oleh pihak Universitas. Bahkan dari organisasi yang baru dibentuk  hingga organisasi yang sudah lama eksis pun kami termasuk di dalamnya. Jadi tak salah jika kami menganggap diri kami adalah  kolektor sertifikat (hahahaha...).
Hari-hariku bersama para sahabat pun bertambah warna semenjak Muni, Win, Agus, Isni, Liza, Toety, Anda, Azis, Fikar, Zulmahdi hadir. Ada yang lucu dari pertemanan itu. Raisa lebih sering bersama Muni, Isni sahabat terbaik Liza, dan Toety juga selalu bersama Anda. Mereka sama sekali tidak kompak, bahkan berselisih paham terutama Raisa dan Muni yang terbilang sinis dengan keberadaan Isni (semoga mereka tidak berselisih paham mengenai tulisanku ini). Atau sebaliknya, Isni yang sinis terhadap raisa dan Muni. Lain lagi dengan Toety yang pada saat itu masih sangat sensitif. Anda hanya menyerngit saat Toety terlihat cemberut. Dengan kondisi seperti itu, Anda sering bersama Muni dan Raisa yang terkadang membuat Toety menyendiri. Isni dan Liza saat itu masih tak sejalan dengan Raisa dan yang lain. Bahkan tegur sapa pun tak pernah terlihat dari mereka.
Tapi, hal yang demikian itu berbeda dengan kondisi aku dan teman-temanku sesama cowok. Kami bisa bergaul dengan siapa saja, tak ada kelompok atau kasta. Bagi kami, teman adalah teman. Bukanlah musuh atau apapun namanya.
Lagi, Waktu terus berjalan, semester berganti dan mengikis habis segala perbedaan. Di kampus kami, Cahaya tercinta. Kami memulai dan menjalankan segala sesuatu dengan kompak. Tak ada lagi yang berusaha menjadi duri. Semua bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan satu sama lain, meski sesekali ada noda yang mengancam tetapi tetap bisa teratasi dengan kebersamaan kami. Raisa, Muni, Isni, Toety, Anda, Liza menjadi satu di tambah kehadiran Malini yang ikut meramaikan kebersamaan.
Kebersamaan itu tidak bertahan singkat. Bahkan sampai pindah ke kampus baru di Reuleut, kami menjadi lebih kompak dari sebelumnya.
Aku bangga memiliki mereka. Merekalah yang mewarnai hari-hariku di samping keluarga. Kalau saja tak ada mereka di kampus akan terasa sangat hambar. Aku juga ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Willy, dia sahabat yang sangat baik. Hampir setiap hari dia menjemputku ke rumah dan pergi ke kampus bersama (Harap maklum boss!!! Saat itu aku belum mempunyai kendaraan).
Teringat pada suatu hari. Kami berempat, aku, Willy, Win dan Agus hendak mengantar proposal beasiswa di PT. Arun NGL. Namun sepulang dari situ. Aku mengajak mereka untuk ikut ke kampus karena pukul setengah dua siang aku masuk matakuliah Perbandingan Administrasi Negara. Awalnya mereka nggak mau ikut, tapi setelah beberapa kali kuajak mereka pun terpaksa ikut.
Sungguh, hari itu adalah hari naas bagi Win dan Agus, mereka kecelakaan. Win terpaksa masuk ICU Rumah Sakit Arun karena mengalami luka yang cukup parah, sedangkan Agus hanya terluka ringan. Sementara aku dan Willy yang jauh di depan tidak mengetahui kalau mereka kecelakaan. Kami baru mengetahuinya saat Agus menelepon willy. Dan saat itu kami sudah tiba di kampus. Awalnya kami tidak percaya, mungkin saja Agus bercanda, tapi setelah diyakini akhirnya kami pun percaya. Kemudian setelah minta izin pada Dosen yang bersangkutan, akhirnya kami pun segera menuju ke Rumah Sakit Arun. Sampai disana, kami melihat Win dengan kondisi yang sangat menggores hati.
Singkat cerita, setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit Kesrem setelah di pindahkan dari Rumah sakit Arun, kami pun mengantar Win ke kampung halamannya di Bener Meriah. Kira-kira sebulan lamanya Win tidak bisa masuk kuliah karena luka di kakinya yang belum sembuh.
Lalu, setelah kesembuhan Win, cerita pun di mulai dengan lebih seru. Banyak kelucuan yang hadir dalam persahabatan kami. Di Kantin “Ibu Bapak” kami tertawa, bersenda gurau dan berbagi cerita. Kalau tidak ada jadwal kuliah atau pada saat pulang kuliah, maka jadwal jalan-jalan pun di mulai. Dari nongkrong-nongkrong di Pantai, berkunjung ke rumah teman sampai narsis-narsisan berfoto pun menjadi kesan yang tidak pernah bisa dilupakan.
“nanti kita jalan-jalan yuk!”
“nanti kita kemana ya?”
“Besok kita jalan-jalan kemana?”
 “Hari sabtu kita ke laut yuk!”
“kita berenang yuk!”
“kita mancing yuk!”
“Hari minggu kita kesana, kemari, kemana aja mau....???”

Hohoho... Entah berapa tempat yang sudah kami datangi. Kami selalu bisa berbagi, ketika seorang sedih, maka yang lain turut merasakan. Ketika ada yang senang, maka saling berbagi. Bahkan kalau ada yang lagi dapat rejeki, seperti dapat beasiswa, tak perlu khawatir tidak di traktir, “semuanya gratis ha... betul betul betul...” kata Muni dengan logat melayu Upin-Ipin nya.

Itu beberapa waktu lalu.. Lalu bagaimana dengan sekarang?? Jangan tanya aku! Aku takut menceritakannya, aku takut akan mengakhiri keceriaan yang pernah terukir indah. Dan aku takut ceritaku ini hanya menjadi kisah bodoh yang tak bernilai. Aku pun takut saat mereka mulai menjauh...

Dari Hati Terdalam,

Rhein Rinaldi A Thal.

WAJAH BARU PEMILU 2009 DI ACEH

Oleh : Rinaldi A Thal*


         Cagar perpolitikan di Aceh telah melahirkan wajah baru bagi keberlangsungan demokrasi yang selama ini diagung-agungkan. Masyarakat Aceh dan seluruh masyarakat Indonesia akan dihadapkan pada pemilu 2009 yang berdasarkan keputusan tim KPU (Komisi Pemilihan Umum) dilaksanakan pada tanggal 09 April 2009. KPU juga telah menobatkan 34 Parnas (Partai Nasional) dan 6 Parlok (Partai Lokal) yang akan bersaing memperebutkan kursi empuk di lembaga Tinggi Negara ini. Tak tahu pasti siapa yang akan memetik kemenangan. Yang jelas ini akan menjadi moment yang paling berharga bagi sejarah perpolitikan Indonesia, Aceh khususnya.
Sedikit flashback pasca damai Aceh, keberadaan Parlok sebagai wajah baru dalam “gelembung” kepartaian Indonesia, sedikit demi sedikit mulai eksis di ranah politik Aceh tidak lain dan tidak bukan adalah berkat dari petikan buah manis MOU atau Kesepakatan Kesepahaman Damai antara RI dan GAM pada medio 2005 lalu yang melahirkan Peraturan Pemerintah (PP) No 20 tahun 2007 tentang Parlok (Partai Lokal) di Aceh. Keberadaan Peraturan tersebut sama sekali tidak disia-siakan oleh masyarakat Aceh, khususnya eks GAM. Oleh karena itu muncul lah partai-partai lokal, seperti Partai Aceh, PRA, dan lain sebagainya di bumi Tanah Rencong ini.
Sadar atau pun tidak, kita selaku publik akan sedikit dibingungkan oleh keberadaan Parlok tersebut. Bagaimana tidak, semakin banyak Parlok yang muncul maka semakin bingung kita memilih mana diantara Parlok-Parlok tersebut yang pantas menguasai kancah politik di Aceh dan Parlok mana yang mempunyai visi-misi membangun kesejahteraan Aceh. Lalu kita juga akan dibingungkan oleh tingkah laku Parnas yang terasa disaingi oleh adanya parlok. Seandainya saja parnas akan bentrok dengan Parlok setelah Pemilu 2009 mendatang karena kekalahan atau kemenangan salah satunya, atau antar Parpol saling tidak menerima kemenangan Parpol lain, maka tunggu saja bara api panas  akan berkobar di Nanggroe Aceh Darussalam ini. Na’udzubillahimin zalik.
Dinamika pergulatan dunia politik di Aceh telah melahirkan wajah baru pada Pemilihan Umum 2009 mendatang. Kehadiran Partai Lokal menjadikannya sebagai saingan baru bagi Partai Nasional yang sudah sekian lama menyelam dalam arus perpolitikan Indonesia. Dalam pemilu 2009 nanti, masyarakat aceh dihadapkan pada sebuah situasi yang pelik. Dimana masyarakat diminta untuk memilih Caleg dari Partai mana yang selayaknya duduk dalam kursi empuk DPR, untuk selanjutnya mampu meneriakkan kesejahteraan bagi rakyat Aceh. Ya, hanya meneriakkan. Tak lebih dari itu.
Beragam upaya dilakukan oleh para Caleg agar dipilih dalam Pemilu 2009 mendatang. Tak heran jika ada sebahagian dari Caleg suatu Partai yang melakukan lobi-lobi kecil pada organisasi-organisasi dengan menawarkan sejumlah imbalan, untuk selanjutnya organisasi tersebut menarik sebanyak mungkin massa untuk memilih si Caleg tersebut. Yang demikian ini merupakan suatu kewajaran dalam dunia politik.
Menurut hemat saya, sedikitnya ada tiga kekurangan Partai Politik yang selama ini kerap terjadi yang harus sama-sama kita perbaiki agar pemilu 2009 dan pemenangnya menjalankan amanah rakyat sebagaimana mestinya. Pertama, kurangnya kejujuran Parpol setelah terpilih memenangkan Pemilu. Dimana Parpol yang ada hanya menyuarakan janji-janji yang memikat publik tanpa memberi bukti yang memuaskan masyarakat. Misalnya, Parpol A pada Pilkada yang lalu berjanji akan menggratiskan biaya pendidikan seandainya Calegnya terpilih memenangkan Pilkada. Namun kenyataannya janji tersebut tidak pernah ditepati, akibatnya biaya pendidikan bukannya gratis atau paling tidak berada dalam kategori murah, malah semakin mahal saja. Haruskah kita menyalahkan mereka yang sudah terpilih? Atau jangan-jangan kita yang salah memilih? Wallahu’alam..
Kedua, minimnya knowledge atau pengetahuan tentang bagaimana dalam memecahkan suatu masalah (problem solving) dan membuat sebuah kebijakan politik yang baik (good politics policy), akibatnya tak jarang melahirkan kebijakan yang tidak tepat sasaran.
Ketiga, Caleg yang terpilih beserta Parpolnya cenderung kurang menerapkan kerja politik sesuai ketentuan-ketentuan yang berlaku, sehingga tidak jarang praktik Nepotisme menjadi sesuatu yang tak dapat dihindari. Untuk itu masyarakat sedikit banyaknya harus ikut menilai kinerja yang dilakonkan oleh Pemerintah dan menindak-lanjuti seandainya terjadi penyimpangan-penyimpangan agar stabilitas politik dapat terjaga.
***
Melihat ke arah peluang dan tantangan pemilu 2009 di Aceh tak dapat dipisahkan dari Partai Politik sebagai aktornya. Kecenderungan Parpol dalam bertindak yang selama ini ditampakkan mengisyaratkan bahwa masing-masing dari Parpol tersebut sudah siap bertarung dalam pemilu mendatang. Bahkan beberapa waktu yang lalu di Langsa, Parlok dan Parnas sama-sama menyuarakan Pemilu Damai 2009. Ini menandakan bahwa kekhawatiran kita terhadap konflik antar Parpol setelah pemilu menjadi berkurang.
Mengenai seberapa besar peluang gol-nya parpol (Parlok maupun Parnas) dalam pemilu 2009 mendatang, saya menawarkan dua metode yang sangat simple:
Pertama, dengan metode pendekatan dan sosialisasi. Maksudnya, Parpol harus terjun langsung ke lapangan untuk menarik simpatisan masyarakat dengan melakukan sosialisasi berupa pengadaan pendidikan dan pelatihan yang diperuntukkan bagi masyarakat. Misalnya membuat sebuah seminar kepartaian, dimana disitu parpol menjelaskan tentang visi-misi partai, pengenalan kader-kader, dan hal-hal yang dianggap perlu lainnya serta tak lupa meminta saran dan kritikan dari masyarakat yang mampu mengarahkan partai untuk bekerja optimal.
Nah, secara tidak langsung dari situ timbullah rasa kepercayaan dari masyarakat kepada partai tersebut dan otomatis juga terjalin kedekatan antara parpol dengan masyarakat, sehingga pada pemilu mendatang dapat dipastikan si masyarakat tadi akan memilih Parpol tersebut untuk mewakili menyuarakan suara mereka dalam parlemen.
Kedua, menggunakan metode Terbuka dan Tertutup. Metode ini sangat sederhana. Metode terbuka hampir sama dengan metode pendekatan dan sosialisasi, namun dalam metode  terbuka lebih bersifat khusus. Dimana dalam melakukan pendekatan dan sosialisasi, Parpol diharapkan bisa lebih terarah kepada tujuan utama Partai, bersifat  transparan dan jujur dalam menyampaikan pidato kampenyenya, tidak melakukan kecurangan-kecurangan (seperti: menjelek-jelekkan partai lain, dan lain sebagainya), serta tidak adanya unsur pembohongan publik.
Sedangkan metode tertutup, berkenaan dengan hal-hal yang bersifat urgent dan rahasia bagi Parpol yang tidak boleh bocor ke publik atau ke Parpol lain. Misalnya, tentang kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang ada di badan partai, sedapat mungkin harus bisa ditutupi untuk mencegah Nol-nya dukungan masyarakat terhadap partai tersebut.
***
Berbicara tentang tantangan dalam pemilu 2009 di Aceh, maka harus kita garis-bawahi bahwa Parlok dan Parnas sama-sama memiliki visi-misi yang mengarah pada tujuan akhir, yaitu menuju Aceh ke arah yang lebih baik. Namun, untuk mewujudkan visi-misi tersebut Parpol harus melihat tantangan yang harus dilalui itu seperti apa dan bagaimana pemecahannya. Berikut ini saya representasikan mengenai tantangan terbesar Parlok dan Parnas dalam pemilu mendatang:
Adanya impresi dari masyarakat yang beranggapan bahwa Parlok terkesan ngotot ingin menang. Dimana parlok yang kader-kadernya didominasi oleh eks GAM yang hanya berpengalaman dalam perang gerilya dan belum mahir dalam urusan politik yang sarat dengan intrik, tiba-tiba ikut ambil bagian dalam mengurusi perpolitikan. How could it be? Dikhawatirkan mereka akan kocar-kacir dalam membuat kebijakan politik karena tidak mengerti apa yang harus dilakukan ( terkecuali bagi eks GAM yang lulusan Perguruan Tinggi atau pengamat politik), dan yang terkena imbasnya adalah rakyat. Sungguh tragis dan memilukan. Ini merupakan tantangan terbesar bagi Parlok sendiri agar berbenah diri dan kedepannya juga bisa lebih mahir dalam menguasai dunia politik. Salah satu cara yang tepat, ya dengan mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi kader. Semoga carut-marut masyarakat terhadap kebobrokan kinerja pemerintah lenyap dan ke-6 parlok yang akan bertarung dalam pemilu 2009 mampu membawa perubahan ke arah yang baik bagi Aceh.
Lain Parlok, lain lagi dengan Parnas. Dalam pemilu 2009 mendatang Parnas memiliki saingan baru yang patut diwaspadai, yaitu Parlok. Kecenderungan parlok yang nota bene eks GAM dan sudah lama eksis ditengah-tengah masyarakat Aceh yang rindu akan sosok pemimpin baru, menimbulkan suatu tantangan tersendiri bagi Parnas. Bagaimana tidak, seperti pilkada yang terdahulu, dimana banyak dimenangkan oleh eks GAM yang diantaranya sekarang telah menjabat sebagai Anggota Dewan, Bupati bahkan menjadi Gubernur Aceh, seperti Irwandi Yusuf. Hal ini diharapkan mampu mendongkrak kinerja Parnas untuk lebih matang lagi dalam mempersiapkan pemilu 2009 agar memperoleh banyak suara.
Peluang dan tantangan yang paling besar sebenarnya adalah dari masyarakat Aceh itu sendiri. Solusi terbaik untuk menata peluang dan memudahkan tantangan dalam pemilu 2009 mendatang tidak lain adalah peran serta seluruh lapisan masyarakat untuk ikut memilih dalam pemilu dan menekan jumlah Golput (Golongan Putih). Semoga Pemilu Damai 2009 di Aceh dapat terwujud dan menjadikan Aceh sebagai teladan bagi daerah-daerah lain di Indonesia. Amiin.

*Penulis: Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Malikussaleh. Tulisan ini diikutsertakan pada lomba Pena Award BEM FISIP Unimal Januari 2009.

DILEMA SEBUAH PELAYANAN PUBLIK

Oleh: Rinaldi A Thal*


Negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan penduduk untuk memenuhi hak dan kewajiban dasarnya dalam kerangka pelayanan publik yang merupakan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Hal demikianlah yang melatar-belakangi lahirnya kebijakan yang mengatur tentang pola pelayanan publik di Indonesia yang tertuang dalam UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
Lahirnya UU No. 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik tidak serta merta bisa merubah pola pelayanan yang selama ini masih belum berjalan dengan baik menjadi lebih berkualitas. Terlebih karena undang-undang ini masih terlalu dini. Meski sebelumnya telah ada regulasi baku yang mengatur mekanisme pelayanan publik, namun masih dirasa belum cukup untuk membuat sebuah pelayanan itu menjadi benar-benar dapat memuaskan masyarakat (pelanggan). Karena itu perlu kerja keras dari semua pihak untuk dapat mewujudkannya.
Keberhasilan sebuah pemerintahan juga sangat ditentukan dari baik atau buruknya pelayanan publik yang diberikan. Dinamika dari sebuah pelayanan dapat melahirkan berbagai perspektif yang timbul dari kalangan masyarakat. Ada yang menilai pelayanan publik saat ini sudah berjalan dengan baik, tapi tak jarang yang berpendapat bahwa pelayanan publik di Indonesia masih sangat buruk.
Melihat dari apa yang selama ini terjadi, pelayanan publik bukanlah salah satu bidang yang berhasil diimplementasikan dengan baik yang bisa menjadi kebanggaan pemerintah. Terlebih masyarakat terlanjur menilai bahwa birokrasi dan sistem pelayanan publik di Indonesia lamban dan terbelit-belit. Sebuah dilema yang harus segera dipulihkan.
Pemerintah harus bisa merubah pola pikir masyarakat yang masih menilai negatif tentang birokrasi ke pola pikir yang positif secara komprehensif. Hal tersebut perlu dilakukan dengan upaya-upaya positif pula oleh pemerintah dengan melakukan reformasi birokrasi, sehingga paradigma negatif tentang birokrasi dan pola pelayanan publik yang lahir dari kalangan masyarakat menjadi hilang dan berganti dengan kepercayaan (trust) yang baik kepada pemerintah, terutama kepercayaan terhadap penyelenggara dan pelaksana pelayanan publik.
Penyelenggara pelayanan harus bersama-sama dengan masyarakat dalam menyusun dan menetapkan standard pelayanan, hal tersebut sesuai dengan pasal 20 ayat 2 dalam UU No. 25 tahun 2009. Dalam menyusun dan menetapkan standar pelayanan harus memperhatikan kemampuan penyelenggara, kebutuhan masyarakat dan kondisi lingkungan sehingga iklim pelayanan publik yang terjadi dapat berjalan dengan baik dan bisa memuaskan masyarakat.
Dalam mewujudkan kepuasan masyarakat dalam rangka pelayanan, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (MENPAN) dalam keputusannya Nomor : 81/1995 menegaskan bahwa pelayanan yang berkualitas hendaknya sesuai dengan sendi-sendi sebagai berikut : pertama, Kesederhanaan, dalam arti bahwa prosedur/ tata cara pelayanan diselenggarakan secara mudah, lancar, cepat dan tidak berbelit-belit serta mudah dipahami dan dilaksanakan.
Kedua, Kejelasan dan kepastian, menyangkut : prosedur/ tata cara pelayanan umum, Persyaratan pelayanan umum, baik teknis maupun administrative, Unit kerja atau pejabat yang bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan umum, Rincian biaya/tarif pelayanan umum dan tata cara pembayarannya, Jadwal waktu penyelesaian pelayanan umum, Hak dan kewajiban baik dari pemberi maupun penerima pelayanan umum berdasarkan bukti-bukti penerimaan permohonan/ kelengkapannya, sebagai alat untuk memastikan pemrosesan pelayanan umum, Pejabat yang menerima keluhan pelanggan (masyarakat).
Ketiga, Keamanan, mengandung arti bahwa proses serta hasil pelayanan umum dapat memberikan keamanan dan kenyamanan serta dapat memberikan kepastian hukum. Keempat,  Keterbukaan, dalam arti bahwa prosedur/tata cara, persyaratan, satuan kerja/pejabat penanggung jawab pemberi pelayanan umum, waktu penyelesaian dan rincian biaya/tarif dan hal-hal lain yang yang berkaitan dengan proses pelayanan umum wajib diinformasikan secara terbuka agar mudah diketahui dan difahami oleh masyarakat, baik diminta maupun tidak diminta.
Kelima, Efisien, meliputi persyaratan pelayanan umum hanya dibatasi pada hal-hal yang berkaitan langsung dengan pencapaian sasaran pelayanan dengan tetap memperhatikan keterpaduan antara persyaratan dengan produk pelayanan umum yang diberikan, dicegah adanya pengulangan pemenuihan kelengkapan persyaratan, dalam hal proses pelayanannya mempersyaratkan kelengkapan persyaratan dari satuan kerja/instansi pemerintah lain yang terkait.
Keenam,  Ekonomis, dalam arti pengenaan biaya pelayanan umum harus ditetapkan secara wajar dengan memperhatikan : nilai barang atau jasa pelayanan umum dengan tidak menuntut biaya yang tinggi diluar kewajaran, kondisi dan kemampuan pelanggan (masyarakat) untuk membayar secara umum, ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketujuh, Keadilan yang merata dalam arti cakupan atau jangkauan pelayanan umum harus diusahakan seluas mungkin dengan distribusi yang merata dan diperlakukan secara adil. Kedelapan, Ketepatan waktu, dalam arti pelaksanaan pelayanan umum dapat diselesaikan dalam kurun waktu yang telah ditentukan.
Kedelapan hal tersebut sesungguhnya merupakan pilar penting bagi terwujudnya sebuah pelayanan yang baik— sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namun realita yang terjadi di lapangan apakah sudah sesuai dengan apa yang semestinya terjadi? Sebuah dilema bagi kita melihat bagaimana sebuah realita dan teori tentang pelayanan bisa berjalan dengan harmonis.
Sedikitnya ada empat permasalahan yang menurut penulis tengah mendera pelayanan publik dewasa ini yang menyebabkan tingkat kepuasaan masyarakat masih rendah.
Pertama,  rendahnya kualitas aparatur pemberi pelayanan. Sebuah pelayanan yang berkualitas lahir dari bagaimana seorang aparatur memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kualitas dan profesionalisme kerja seorang aparatur sangat menentukan sebuah pelayanan yang diberikan kepada masyarakat itu baik atau tidak.
Kedua, kurangnya informasi yang seharusnya diketahui oleh masyarakat. Pihak pemberi atau penyelenggara pelayanan sesuai dengan pasal 23 ayat 5 dalam UU No. 25 tahun 2009, berkewajiban menyediakan informasi kepada masyarakat secara terbuka dan mudah diakses. Hal tersebut untuk mempermudah masyarakat dalam mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Namun tak jarang informasi yang seharusnya diketahui oleh masyarakat lambat atau bahkan tidak disampaikan kepada masyarakat, akibatnya masyarakat akan mengalami kesulitan, seperti tidak lengkap berkas yang seharusnya dilampirkan pada saat pengurusan sesuatu, dan hal lain yang mengharuskan masyarakat untuk melengkapi dan mengurusnya kembali.
Ketiga, kurun waktu yang tidak pasti. Seringkali publik mengeluh masalah waktu. Ketidak-pastian waktu dalam pengurusan suatu kebutuhan menyebabkan masyarakat menjadi malas berurusan dengan suatu instansi penyedia pelayanan, meskipun hal tersebut bersifat urgen bagi mereka. Namun karena alasan birokrasi yang lamban dan terbelit-belit itulah yang menyebabkan masyarakat menjadi enggan berurusan dengan birokrasi.
Keempat, adanya pungutan sejumlah uang dengan alasan yang tidak relevan. Meskipun dalam UU No. 25 tahun 2009 pasal 31 ayat 1 disebutkan bahwa, biaya/tarif pelayanan publik pada dasarnya merupakan tanggung jawab negara dan/atau masyarakat (dalam hal ini masyarakat juga dibebankan biaya selaku penerima pelayanan), namun yang kerap terjadi para pelaksana pelayanan meminta sejumlah uang kepada penerima pelayanan dengan alasan yang berbeda-beda, seperti untuk uang lelah pekerja, untuk uang minum pekerja, karena peraturannya demikian, dan alasan-alasan lainnya. Sehingga masyarakat dibuat bingung dengan hal tersebut.
Terlepas dari permasalahan tersebut, diharapkan ke depan pola pelayanan publik yang diterapkan di Indonesia bisa berjalan dengan baik, tentunya dapat memuaskan masyarakat. Untuk itu, dengan lahirnya UU No. 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik ini bisa menjadi acuan dasar dalam tata pelaksaan pelayanan publik yang berkualitas, berkeadilan, dan memuaskan pelanggan. Untuk mewujudkannya maka perlu adanya pengawasan dari berbagai pihak, seperti Dewan Perwakilan Rakyat, Ombudsman, dan juga bersama-sama dengan masyarakat sehingga penyelenggaraan pelayanan publik dapat terwujud dengan baik dan harmonis. Semoga...

 *Penulis adalah Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (Himian) Universitas Malikussaleh Periode 2009-2010.

Senin, 09 Agustus 2010

Puisi Ramadhan



Detik ini ketika waktu mengalir deras dalam arus kesadaran

Sadarkah saat usia mulai menua namun kita masih bermimpi?

Tanpa meminta ajal akan datang menjemput kita

Kapan???

Kita tidak pernah mengetahuinya

Allah pandai menyimpan rahasia

Mungkin detik kemudian,

Atau esok pagi saat kita tidak lagi terbangun

Saat orang yang kita kasihi tak disisi

Allah Mengetahui apa yang tidak kita ketahui

Karena itu sahabatku,

Aku ingin memejamkan mata sejenak

Mengingat dosa-dosa yang menggunung

Menyesali amarah yang sempat membanjiri sepenggal kisah hidupku

Membunuh benci, membuang dusta dan mengubur kemunafikan

Lalu kembali membuka mata

memandang masa depan yang membentang

dan Meminta maaf atas khilaf dan dosa yang pernah ku buat

Ikhlaslah dan maafkanlah aku.!!

"Met Ramadhan 1431 H, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.."


Warmest Regards,

Rinaldi A Thal

Minggu, 08 Agustus 2010

FUNGSI CONTROLLING (PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN)

1.      Definisi
Controlling atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi.
Controlling atau pengawasan adalah fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah memiliki tugas, wewenang dan menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan agar supaya berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan. Di dalam manajemen perusahaan yang modern fungsi control ini biasanya dilakukan oleh divisi audit internal.
Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi manajemen yang lain, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai: “the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans”.
Sementara itu, Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan, bahwa: “pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan – tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.”
Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.
Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko bahwa proses pengawasan memiliki lima tahapan, yaitu:
a.       penetapan standar pelaksanaan;
b.      penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan;
c.       pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata;
d.      pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan penyimpangan-penyimpangan; dan
e.       pengambilan tindakan koreksi, bila diperlukan.

2.      Prinsip Pengawasan
1.      Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan harus dimengerti oleh staf dan hasilnya mudah diukur. Misalnya tentang waktu dan tugas-tugas pokok yang harus diselesaikan oleh staf.
2.      Fungsi pengawasan harus difahami pimpinan sebagai suatu kegiatan yang sangat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
3.      Standar unjuk kerja harus dijelaskan kepada seluruh staf karena kinerja staf akan terus dinilai oleh pimpinan sebagai pertimbangan untuk memberikan reward kepada mereka yang dianggap mampu bekerja.

3.      Manfaat Pengawasan
Bila fungsi wasdal dilaksanakan dengan tepat, organisasi akan memperoleh manfaat berupa:
1.      Dapat mengetahui sejauh mana program sudah dilaukan oleh staf, pakah sesuai dengan standar atau rencana kerja, apakah sumberdaya telah digunakan sesuai dengan yang telah ditetapkan. Fungsi wasdal akan meningkatkan efisiensi kegiatan program.
2.      Dapat mengetahui adanya penyimpangan pada pemahaman staf dalam melaksanakan tugas-tugasnya.
3.      Dapat mengetahui apakah waktu dan sumber daya lainnya mencukupi kebutuhan dan telah dimanfaatkan secara efisien.
4.      Dapat mengetahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan.
5.      Dapat mengetahui staf yang perlu diberikan penghargaan, dipromosikan atau diberikan pelatihan lanjutan.



4.      Proses pengawasan
Terdapat tiga langkah penting dalam proses pengawasana manajerial yaitu:
  1. Mengukur hasil/prestasi yang telah dicapaioleh staf atau organisasi
  2. Membandingkan hasil yang telah dicapai dengan tolok ukur.
  3. Memperbaiki penyimpangan-penyimpangan yang terjadi sesuai dengan faktor-faktor penyebabnya, dan menggunakan, dan menggunakan faktor tersebut untuk menetapkan langkah-langkah intervensi.

5.      Obyek Pengawasan
Dalam melaksanakan fungsi pengawasan manajerial, ada lima jenis obyek yang perlu dijadikan sasaran pengawasan.
  1. Obyek yang menyangkut kuantitas dan kualitas barang atau jasa. Pengawasan ini bersifat fisik.
  2. Keuangan
  3. Pelaksanaan program dilapangan
  4. Obyek yang bersifat strategis
  5. Pelaksanaan kerja sama dengan sektor lain yang terkait.

6.      Jenis-jenis Pengawasan

  1. Pengawasan fungsiomal (struktural). Fungsi pengawasan ini melekat pada seseorang yang menjabat sebagai pimpinan lembaga.
  2. Pengawasan publik. Pengawasan ini dilakukan oleh masyarakat.
  3. Pengawasan non fungsional. Pengawasan ini biasanya dilakukan oleh badan-badan yag diberikan wewenang untuk melakukan pengawasan seperti DPR, BPK, KPK, dan lain-lain.

7.      Prinsip Pokok
Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki. Untuk dapat menjalankan pengawasan, perlu diperhatikan 2 prinsip pokok, yaitu:
1.      Adanya Rencana
2.      Adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang kepada bawahan.
Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah sosialisasi tentang perlunya disiplin, mematuhi segala peraturan demi keselamatan kerja bersama. Sosialisasi perlu dilakukan terus menerus, karena usaha pencegahan adalah penting untuk mendapat perhatian.
Pengawasan dan pengendalian (controlling) sebagai fungsi manajemen bila diikerjakan dengan baik, akan menjamin bahwa semua tujuan dari setiap orang atau kelompok konsisten dengan tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Hal  ini membantu menyakinkan bahwa tujuan dan hasil tetap konsisten satu sama lain dengan dalam organisasi. Controlling berperan juga dalam menjaga pemenuhan (kompliansi) aturan dan kebijakan yang esensial.
Proses pengendalian mulai dengan perencanaan dan pembangunan tujuan penampilan kerja. Tujuan penampilan didefinisikan dan standar-standar untuk mengukurnya disusun. Ada 2 tipe standar:
¨            Standar out-put (keluaran): mengukur hasil-hasil tampilan dalam istilah kuantitas, kualitas, biaya atau waktu.
¨            Standar in-put (masukan):  mengukur usaha-usaha kerja yang masuk ke dalam tugas penampilan.

8.      Pengukuran Penampilan Aktual
Pengukuran harus cukup akurat untuk menyorot penyimpangan atau variasi. Tanpa pengukuran, pengendalian yang efektif tidaklah mungkin ada. Pengukuran dilakukan dengan membandingkan hasil dengan tujuan dan standar. Perbandingan dari tampilan aktual dengan tampilan yang diharapkan membangun kebutuhan untuk bertindak.
Cara untuk membuat perbandingan meliputi:
¨            Historis/relatif/rancang-bangun
¨            Benchmarking

9.      Pengendalian Efektif
Pengendalian terbaik dalam organiasasi adalah berorientasi pada strategi dan hasil, dapat dipahami, mendorong pengendalian diri (self-control), berorientasi secara waktu dan eksepsi, bersifat positif, setara dan objektif, fleksibel.
Tipe-tipe pengendalian (awal) preliminary, kadang-kadang disebut kendali feedforward, hal ini harus dipenuhi sebelum suatu perkerjaan dimulai.
Kendali ini menyakinkan bahwa arah yang tepat telah disusun dan sumber-sumber yang tepat tersedia untuk memenuhinya.
Tipe-tipe pengendalian (saat ini) concurrent berfokus pada apa yang sedang terjadi selama proses. Kadang-kadang disebut kendali steering, kendali ini memantau operasi dan aktivitas yang sedang berjalan untuk menjamin sesuatunya telah sedang dikerjakan dengan tepat.
Tipe-tipe pengendalian (akhir) post-action; kadang-kadang disebut kendali feedback , kendali ini mengambil tempat setelah suatu tindakan dilengkapi. Kendali akhir berfokus pada hasil akhir, kebalikan dari input dan aktivitas.
Manajer memiliki 2 pilihan luas dengan memperhatikan pengendalian. Mereka dapat mengandalkan orang-orang untuk melatih pengendalian diri (internal) atas tingkah lakunya sendiri. Alternatif lain, manajer dapat mengambil tindakan langsung (external) untuk mengendalikan tingkah laku orang lain.
Pengendalian internal memberikan individu yang termotivasi untuk melatih pengendalian diri dalam memenuhi harapan pekerjaan. Potensi untuk pengendalian diri dikembangkan ketika orang yang mampu memiliki tujuan tampilan yang jelas dan dukungan sumber-sumber yang tepat.
Pengendalian eksternal terjadi melalui supervisi personal dan penggunaan sistem administrasi formal antara lain sistem penilaian penampilan, sistem kompensasi dan keuntungan, sistem disiplin kepegawaian, dan management-by-objectives (manajemen berdasar tujuan).
Kompensasi dan keuntungan dari sistem pengawasan dan pengendalian yang baik adalah:
¨  Akan menarik orang berbakat dan mempertahankannya di dalam organisasi.
¨  Memotivasi orang untuk menggunakan usaha maksimum dalam pekerjaannya.
¨  Menyadarkan nilai dari kontribusi penampilannya.


Daftar Pustaka

  1. A.A. Gde Manunjaya. 1999. Manajemen Kesehatan. Jakarta: EGC.
  2. Azrul Azwar. 1988. Pengantar Administrasi Kesehatan. Edisi kedua. Jakarta: PT. Bina Rupa Aksara.
  3. Dee Ann Gillies. 1989. Nursing Management. Philadelphia: WB. Saunders Company.
  4. Eleanor J. Sullivan dan Phillip J. Decker. 1985. Effective Management in Nursing. California: Addison-Wesley Publishing Company.
  5. H. Moh. Isa. 1980. Beberapa Bacaan tentang Dasar-dasar Manajemen. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai Depkes RI.
  6. T. Hani Handoko. 1995. Manajemen. Edisi kedua. Yogyakarta: BPFE.