Senin, 16 Agustus 2010

Me and My College Friends

Bismillahirrahmanirrahim....

Kali ini semua ku tahu hal yang kulalui berbeda dari sebelumnya. Tak bisa aku pungkiri semua kujalani lebih indah dari apa yang pernah kujalani sebelumnya. Sahabat, sebuah kata yang sangat sederhana... namun begitu dalam jika diartikan. Sahabatlah yang membuatku berbeda, mereka juga yang mengikuti perubahanku, mereka ada ketika aku membutuhkan canda, tawa dan keceriaan. Mereka hadir begitu dekat bagiku.. itu curahan hatiku.. tentang sahabatku. Mereka warnai hari-hariku, penatku, letihku, sedihku, sukaku, dan semua hal yang aku lalui. Rasa sakitku hilang ketika aku berada di samping mereka. Seakan merekalah obat dari penyakitku.
Aku dan semua hal yang kutahu tentang mereka, sahabatku. Di awal yang baik di hari yang baik, aku mengenal mereka yang kini tak pernah kulupakan dan selalu bergandengan mengisi hari ke hari. Aku mengenal mereka saat pertama masuk perguruan tinggi. Oki, sahabat yang pertama kali kukenal. Pertemuan kami terbilang unik, di tempat fotocopy. Pada saat itu kebetulan ada berkas yang harus difotocopy. Aku memulai perkenalan.
“mau daftar ulang?” tanyaku.
“iya. Kamu?”
“ya sama. Lewat jurusan apa?” tanyaku lagi.
“Ilmu Administrasi Negara.” Jawabnya.
“wah.. sama. Aku juga lewat di jurusan lmu Administrasi Negara.” Ujarku.
Komunikasi terus berlanjut sampai hari-hari berikutnya.
Kemudian tibalah waktu ospek. Oki yang sudah ku kenal hampir selalu bersamaku, namun karena kelompok ospek yang berbeda kami pun terpisah untuk sementara waktu. Aku kelompok 1, sementara Oki kelompok 16.
Nah, di kelompok 1 itulah aku berjumpa dengan Willy. Dia seorang pendiam. Lagi, aku yang mengawali percakapan.
“Jurusan apa?” tanyaku singkat.
“Ilmu Administrasi Negara.” Jawabnya.
“wah.. sama. Aku juga jurusan lmu Administrasi Negara.”

Komunikasi pun berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Sebelumnya, aku juga mengenalkan Willy pada Oki. Kami pun sering bersama. Bahkan di awal-awal masuk perkuliahan. Kami selalu bersama. Kemudian, muncullah Raisa hadir sebagai sahabat selanjutnya. Awalnya Raisa tidak begitu dekat dekat Willy, dia dekat dengan aku dan Oki. Oki dan Raisa sangat hobi berorganisasi. Berbanding terbalik dengan aku yang sebenarnya juga pendiam, pemalu, tertutup dan juga demam panggung (hehe... ini rahasia episode bangku sekolah). Bahkan untuk berbicara di depan publik saja aku gugup minta ampun. Namun, karena keinginan yang kuat perlahan-lahan aku mulai memberanikan diri tampil di depan kelas. Di depan mahasiswa-mahasiswi cerdas. Aku banyak belajar dari Oki. Dia punya keberanian yang kuat dan bermental baja. Selalu saja dia dan dia yang berbicara di ruang. Aku jadi iri dibuatnya.
Waktu terus berjalan, hari ke hari aku terus berpikir, kenapa Oki bisa sementara aku tidak? Lalu semangat dan optimisme yang tinggi pun muncul. Perlahan-lahan aku mencoba memberanikan diri memberikan beberapa argumen pada matakuliah yang kami pelajari. Lama-kelamaan aku bisa terbiasa untuk berbicara di depan publik. Hal tersebut sangat berdampak pada nilaiku yang bagus. Bahkan aku termasuk mahasiswa dengan IP paling tinggi dari semester 1 sampai saat aku menulisi catatan ini. Jujur, aku sangat berterimakasih pada seluruh teman-teman Jurusan Ilmu Administrasi Negara kelas Pagi, terutama terimakasihku pada Oki. Karena begitu banyak motivasi yang aku dapatkan darinya.
Kembali pada perihal organisasi. Aku yang sama sekali minim pengalaman, tiba-tiba “gila” untuk ikut berorganisasi. Itu karena Raisa, Oki dan aku sering mengikuti berbagai Training yang diadakan oleh pihak Universitas. Bahkan dari organisasi yang baru dibentuk  hingga organisasi yang sudah lama eksis pun kami termasuk di dalamnya. Jadi tak salah jika kami menganggap diri kami adalah  kolektor sertifikat (hahahaha...).
Hari-hariku bersama para sahabat pun bertambah warna semenjak Muni, Win, Agus, Isni, Liza, Toety, Anda, Azis, Fikar, Zulmahdi hadir. Ada yang lucu dari pertemanan itu. Raisa lebih sering bersama Muni, Isni sahabat terbaik Liza, dan Toety juga selalu bersama Anda. Mereka sama sekali tidak kompak, bahkan berselisih paham terutama Raisa dan Muni yang terbilang sinis dengan keberadaan Isni (semoga mereka tidak berselisih paham mengenai tulisanku ini). Atau sebaliknya, Isni yang sinis terhadap raisa dan Muni. Lain lagi dengan Toety yang pada saat itu masih sangat sensitif. Anda hanya menyerngit saat Toety terlihat cemberut. Dengan kondisi seperti itu, Anda sering bersama Muni dan Raisa yang terkadang membuat Toety menyendiri. Isni dan Liza saat itu masih tak sejalan dengan Raisa dan yang lain. Bahkan tegur sapa pun tak pernah terlihat dari mereka.
Tapi, hal yang demikian itu berbeda dengan kondisi aku dan teman-temanku sesama cowok. Kami bisa bergaul dengan siapa saja, tak ada kelompok atau kasta. Bagi kami, teman adalah teman. Bukanlah musuh atau apapun namanya.
Lagi, Waktu terus berjalan, semester berganti dan mengikis habis segala perbedaan. Di kampus kami, Cahaya tercinta. Kami memulai dan menjalankan segala sesuatu dengan kompak. Tak ada lagi yang berusaha menjadi duri. Semua bisa menerima segala kekurangan dan kelebihan satu sama lain, meski sesekali ada noda yang mengancam tetapi tetap bisa teratasi dengan kebersamaan kami. Raisa, Muni, Isni, Toety, Anda, Liza menjadi satu di tambah kehadiran Malini yang ikut meramaikan kebersamaan.
Kebersamaan itu tidak bertahan singkat. Bahkan sampai pindah ke kampus baru di Reuleut, kami menjadi lebih kompak dari sebelumnya.
Aku bangga memiliki mereka. Merekalah yang mewarnai hari-hariku di samping keluarga. Kalau saja tak ada mereka di kampus akan terasa sangat hambar. Aku juga ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Willy, dia sahabat yang sangat baik. Hampir setiap hari dia menjemputku ke rumah dan pergi ke kampus bersama (Harap maklum boss!!! Saat itu aku belum mempunyai kendaraan).
Teringat pada suatu hari. Kami berempat, aku, Willy, Win dan Agus hendak mengantar proposal beasiswa di PT. Arun NGL. Namun sepulang dari situ. Aku mengajak mereka untuk ikut ke kampus karena pukul setengah dua siang aku masuk matakuliah Perbandingan Administrasi Negara. Awalnya mereka nggak mau ikut, tapi setelah beberapa kali kuajak mereka pun terpaksa ikut.
Sungguh, hari itu adalah hari naas bagi Win dan Agus, mereka kecelakaan. Win terpaksa masuk ICU Rumah Sakit Arun karena mengalami luka yang cukup parah, sedangkan Agus hanya terluka ringan. Sementara aku dan Willy yang jauh di depan tidak mengetahui kalau mereka kecelakaan. Kami baru mengetahuinya saat Agus menelepon willy. Dan saat itu kami sudah tiba di kampus. Awalnya kami tidak percaya, mungkin saja Agus bercanda, tapi setelah diyakini akhirnya kami pun percaya. Kemudian setelah minta izin pada Dosen yang bersangkutan, akhirnya kami pun segera menuju ke Rumah Sakit Arun. Sampai disana, kami melihat Win dengan kondisi yang sangat menggores hati.
Singkat cerita, setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit Kesrem setelah di pindahkan dari Rumah sakit Arun, kami pun mengantar Win ke kampung halamannya di Bener Meriah. Kira-kira sebulan lamanya Win tidak bisa masuk kuliah karena luka di kakinya yang belum sembuh.
Lalu, setelah kesembuhan Win, cerita pun di mulai dengan lebih seru. Banyak kelucuan yang hadir dalam persahabatan kami. Di Kantin “Ibu Bapak” kami tertawa, bersenda gurau dan berbagi cerita. Kalau tidak ada jadwal kuliah atau pada saat pulang kuliah, maka jadwal jalan-jalan pun di mulai. Dari nongkrong-nongkrong di Pantai, berkunjung ke rumah teman sampai narsis-narsisan berfoto pun menjadi kesan yang tidak pernah bisa dilupakan.
“nanti kita jalan-jalan yuk!”
“nanti kita kemana ya?”
“Besok kita jalan-jalan kemana?”
 “Hari sabtu kita ke laut yuk!”
“kita berenang yuk!”
“kita mancing yuk!”
“Hari minggu kita kesana, kemari, kemana aja mau....???”

Hohoho... Entah berapa tempat yang sudah kami datangi. Kami selalu bisa berbagi, ketika seorang sedih, maka yang lain turut merasakan. Ketika ada yang senang, maka saling berbagi. Bahkan kalau ada yang lagi dapat rejeki, seperti dapat beasiswa, tak perlu khawatir tidak di traktir, “semuanya gratis ha... betul betul betul...” kata Muni dengan logat melayu Upin-Ipin nya.

Itu beberapa waktu lalu.. Lalu bagaimana dengan sekarang?? Jangan tanya aku! Aku takut menceritakannya, aku takut akan mengakhiri keceriaan yang pernah terukir indah. Dan aku takut ceritaku ini hanya menjadi kisah bodoh yang tak bernilai. Aku pun takut saat mereka mulai menjauh...

Dari Hati Terdalam,

Rhein Rinaldi A Thal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar