Kamis, 06 Januari 2011

Buku Antologi Puisi Pemenang Lomba Puisi FTD FLP Riau



Alhamdulillah.. Meskipun keroyokan alias karya rame2,harus tetap disyukuri, karena ini adalah buku Antologi pertamaku bersama pemenang Lomba Puisi FTD. Semoga bisa tambah termotivasi untuk terus menulis dan menulis..


Berikut mengenai bukunya:

Judul : Munajat Sesayat Doa
Penerbit : Leutika Prio
Penulis : Pemenang Lomba Puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau
Tebal : vi + 48 hlm
Harga : Rp 35.000,-

Sinopsis:
Bagi Anda para pecinta puisi, membaca sebuah antologi puisi mungkin sudah berkali-kali Anda lakukan. Namun sudahkah antologi puisi yang Anda baca tersebut memiliki keunikan seperti yang ada pada antologi “Munajat Sesayat Doa”??? Munajat Sesayat Doa merupakan kumpulan puisi penggugah jiwa. Sastra tak selamanya berkecimpung dalam dunia abu-abu, namun sastra juga mampu memberi setetes pencerahan bagi jiwa-jiwa para penikmatnya. Munajat Sesayat Doa merupakan antologi puisi berisi karya pemenang lomba puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau yang dilaksanakan secara online dengan memanfaatkan fasilitas facebook. Ditulis dalam bentuk puisi-puisi yang ringkas dan padat, namun bukan berarti mengenyampingkan kekohan dan kekuatan makna bahasa para penyair. Puisi-puisi di dalam Munajat Sesayat Doa merupakan bahasa-bahasa kejujuran dari seorang penyair selaku hamba Tuhan kepada Sang Pencipta. Kejujuran kondisi diri sekaligus ungkapan cinta patah-patah yang terlahir dari jiwa penyair.

Lihatlah ungkapan ini:

Karena tasbihku terlalu kelam untuk kuhitung,
Maka aku pun tersungkur memutih dalam cintaMu di paragrap sunyi doaku
Senja memang selalu jingga, sayangku. Tapi zikirku lebih memutih, lebih membumi, dan lebih melayangkanku.

Atau kejujuran yang ini:

masa telah membuat kami kuning. ringkih dan lapuk
di ujung karat. tak kuat menahan sengat mentari yang
kadang jahat panasnya. semilir angin pula telah
cukup sulit hingga tak dapat kami pegang dengan erat.

Munajat Sesayat Doa memberi ruang kepada para penyair dalam berbagai jenjang dan tingkatan, baik bagi mereka yang telah memiliki karya berserakan di media nasional, maupun mereka yang pertama kali membukukan karyanya. Asah kemampuan berpuisi Anda dengan menjadikan Munajat Sesayat Doa sebagai koleksi. Sebab memiliki buku ini tak hanya akan menjadikan Anda sosok yang mahir bersastra, lebih dari itu Anda juga diajak bermunjat dan beramal, karena keuntungan royalti penjualan antologi ini akan dijadikan sebagai anggaran donasi bencana alam di tanah air.

selamat membaca dan menikmati

Salam sastra penuh manfaat!

di copas dari FB Leutika Prio

Minggu, 19 Desember 2010

Informasi Antologi Puisi Lomba FTD

Assalamualaikum Wr.Wb.
Bismillahirrahmanirrahim..
Ba’da tahmid wa shalawat….,

Apakabar rekan-rekan penyair peserta lomba puisi FTD semua? Mudah-mudahan tetap semangat menulis puisi. Terkait dengan rencana pembuatan antologi puisi lomba FTD, maka kami menginformasikan beberapa hal penting berikut;
1. FLP Riau atas nama Forum Tinta Dakwah akan menerbitkan Antologi 100 naskah pemenang lomba puisi FTD (100 nama terlampir di akhir pengumuman)
2. Naskah akan diterbitkan di Leutika Prio dengan biaya paket penerbitan ditanggung oleh penulis FLP Riau yang naskahnya masuk ke dalam antologi.
3. Peserta TIDAK mendapatkan buku, jika peserta ingin memiliki dipersilahkan membelinya ke penerbit bersangkutan.
4. Royalti hasil penjualan akan dijadikan anggaran dana donasi bencana atau bencana kemanusiaan seperti Palestina.
5. Kepada seluruh nama-nama yang tercantum di bawah ini agar mengirimkan ulang biodata dalam bentuk narasi, maksimal 150 kata ke email: suzie_chem03@yahoo.com, paling lambat selasa 21 Desember 2010.
6. Apabila ada peserta yang keberatan dengan ketentuan di atas maka FTD akan menghapus karyanya dari daftar peserta antologi. Keberatan dapat dikonfirmasi via inbox Sugiarti Flp Riau atau Ahmad Ijazi H.
7. Khusus bagi peserta no urut 65, jika sampai tanggal 21 tidak mengkonfirmasi nama, maka panitia akan mengganti karyanya dengan karya peserta yang lain.

Berikut daftar 100 nama yang akan mengisi antologi puisi Forum Tinta Dakwah FLP Riau:

1. A. Ganjar Sudibyo
2. Alimuddin
3. Amaturrasyidah
4. Iman Safri Lukman
5. Kholil Aziz
6. Moh. Mahfudz AF
7. Muhammad Haddiy
8. Muhimmah
9. Muna Masyari
10. Quranul Hidayat Idris
11. Riyan Ibayana
12. Salman Lubis
13. Wening Wahyu N
14. Mariyam
15. Rafif Amir
16. Abdul Salman HS
17. Airin Nisa
18. Mukhanif Yasin Yusuf
19. Riyawati
20. Deris Afriani
21. Ayyesha Khaulah Nusaibah
22. Eros Rosita
23. Dony P. Herwanto
24. Na Lesmana
25. Diannafi
26. AF Kurniawan
27. Bening Sanubari
28. Inda Nugraha Hidayat
29. Faisal Syahreza
30. Aji Wibowo
31. Maulana Hadisona
32. Adyani Sultani
33. Bobby Selfian P
34. Reno Hanjarwady
35. Sahda Nuansa
36. Gendut Pujiyanto
37. Julian Khairul Al-Hafidz
38. Nero Taopik Abdillah
39. A’yat Khalili
40. Afrida Arfah
41. Andi ME Wirambara
42. Asyari Muhammad
43. Awan Tenggara
44. Bang Pras
45. Dwi S. Wibowo
46. Eka Diyah A
47. Eko Triono
48. Haden Mulyono
49. Hery Abdul AlGhoffar
50. Ihsan Subhan
51. Lukman Hakim AG
52. Rinaldi A Thal
53. Pringadi Abdi Surya
54. Suly Bungsu Kasmaja
55. Zulkifli Songyanan
56. Fahrur Rozi Atma
57. Husen Arifin
58. Nazar Shah Alam
59. Toni Lesmana
60. Maya Rinaluziati
61. Dalasari Pera
62. Shinta
63. Muhammad Rusydi
64. Fany Cahya Ning Tyas
65. Untaian Cinta di Atas Sajadah (anonim)
66. Fevrianti Ika Dewi
67. Abdul Khafy Syatra
68. Rizky Bagoes Alam
69. Fauziah Harsyah
70. Kiananara
71. Budhi Setyawan
72. Ahmad Damanhuri
73. Annisa Septia
74. Arca Juanda
75. Cipta Arief Wibawa
76. Febrianti Ika Dewi
77. Sanzia K Al-farist
78. Sudianto
79. Ady Azzumar
80. Sinsin Nobai
81. Jihady Al-Ghifari
82. Merah FLP Palopo
83. Akhi Dirman
84. Endang Ssn
85. Aditya Nugraha
86. Dang Aji Sidik
87. Binta Al-Mamba
88. Rangga Umara
89. Sukei Darel Aksa
90. Beny Oktavian
91. Gita Cinta
92. I Putu Gede Pradipta
93. Lia Arrumaisha
94. Lina Li
95. Mahdi Idris
96. Muhammad Rusydi
97. Nani Lahat
98. Navlamer
99. Nuni Yusvavera Darwani
100. OSHINOE

Selasa, 07 Desember 2010

Do'aku di Awal Tahun


Hari ini,
Sebelum semuanya sepi
sebelum mulut mengunci diri
izinkan sesaat jiwaku berserah

Jika aku terasa kaku pada-Mu
Perkenankan hatiku menyentuh-Mu
Agar menjadi biasa, Nanti
pada hari kita bersua

Hari ini,
dalam perjalanan usia
dibatas penantian waktu
kurangkai untaian kata
menapaki berbagai jalan
kuingin lurus menuju-Mu

Ya Allah,
harus kemana hamba melangkah
dimana tepi tempatku berlabuh
jika dosa-dosa masih bersarang
dalam hati, pada diri

Ya Allah
ku mohon ampuni semua dosaku
ku pinta ini bukan akhir dari waktuku
ku ingin hari ini menjadi awal
untuk kehidupan baruku
sampai waktu itu benar menghampiri
di hari Kau tampakkan wujud-Mu
kuingin menjadi salah seorang hamba
yang tersenyum melihat-Mu.

SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1432 H.
Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang melangkah di jalan-Nya. Amiin..

Salam Hangat,
Rinaldi A Thal

Minggu, 28 November 2010

NYANYIAN LUKA NUSANTARA

By: Rinaldi A Thal

Dari kemuliaan Tuhan memberi
Terciptalah harmoni alam nan jelita
Nusantara bagai anak surga di bumi
Terlahir dari keikhlasan Ibu Pertiwi

Sawah dan ladang membentang
Gunung tinggi menjulang
Pantai yang indah
Hasil alam melimpah
Ini bumi khatulistiwa!

Namun kini prasasti segala doa berguguran
Berkecamuk dalam raungan semesta
Langit dan udara mematung, sejenak
Lalu perlahan mencipratkan liur malapetaka
Di tanah Wasior

Tidak cukup hanya satu goresan
Seakan ini adalah masa-masa terakhir
Nusantara menggeliat resah
Kidung alam menggema
Melantunkan syair pilu

Kita tidak lagi bicara tentang duka Aceh
Meski air matanya hingga kini masih menetes
Tapi, tsunami-nya telah beranak di Mentawai
Membawa duka baru bagi anak negeri
Seakan tiada habisnya

Luka belum sempat terobati
Nusantara kembali tersayat
Merapi memuntahkan kesakitannya
Memulangkan Mbah Maridjan dan ratusan nyawa
Menuju tanah peristirahatan

Sesungguhnya,
Tuhan telah merekam episode luka nusantara
Beragam bencana, beranak-pinak
Berselang waktu
Satu per satu
Sebelum habis

Benarkah ini akibat ulah tangan kita?
Belum terlambat menjalin kasih dengan alam
Atau merajut kembali doa yang telah luruh
Kita bisa merangkai syair-syair baru sambil menanti,
Sebuah hikmah besar mengetuk pintu nusantara.

Lhokseumawe, 26 November 2010